Friday, November 8, 2013

Sukses Nazwa dengan Bisnis Cake Blondi

Sukses Nazwa Bisnis Cake Blondi
Bisnis makanan cukup banyak menelurkan kisah sukses. Salah satunya adalah kisah sukses Nazliana Lubis dengan Bisnis Cake Blondi, pemilik usaha aneka kue di Medan, Sumatra Utara. Berkat ketekunan dan kerja keras, dia berhasil membesarkan toko kue Nazwa Aneka Kue hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Salah satu kue khas yang diolahnya dan menjadi terkenal adalah cake pisang yang diberi nama Blondi Pisang Barangan. Hotel-hotel memesan kue Nazwa sedikitnya sebanyak 600 potong sekali event. “Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event,” jelasnya. Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. “Sekarang bisa menghabiskan 3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari,” kata wanita berkerudung ini. 

Selain kue dia juga menerima pesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasa memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks. Toko kue milik Nazliana atau yang kerap disapa Nazwa yang terletak di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara. Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel. Nazwa terus mengasah kemampuan membuat kue. Dia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung. Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan. Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan. Setengah tahun berjalan, penjualan usaha toko kue Nazwa belum meningkat. Justru lebih sering merugi lantaran saat itu terjadi krisis moneter tahun 1998. “Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha,” katanya. Pada Juli 1997, 

Nazwa nekat jualan donat bermodal dana kurang dari Rp 100.000. Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. “Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya masih belajar membuatnya,” katanya sambil tertawa. Nazwa mulai berani menitipkan kuenya di toko-toko kue. Dari sini, produksi dan omzet mulai berkembang. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokus mengelola toko dan mulai mengajukan proposal penawaran ke beberapa hotel di Medan. Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. ”Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu,” ujarnya. Ia gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurut dia, yang paling penting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel. Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 pieces per item. “Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen,” jelasnya. Dia juga mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien.

Sukses Bisnis Makanan Angkringan

Sukses Bisnis Makanan Angkringan
Dari hari ke hari usaha Makanan Angkringan ini ternyata berkembang, banyak sekali peminatnya di Kota Tangerang. Perkembangan usaha ini tak lepas juga dari kerja keras pasangan ini dalam menjalankan usaha. “mungkin karena dari sisi harga sangat terjangkau, itu yang kami jual, menyediakan makanan murah meriah, dengan kualitas tetep terjaga”, ungkap Pasangan Ibu Juweni dan Bapak Agus. Bagi pasangan yang merasa sukses menurut versinya ini Kedisiplinan adalah faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bisnis mereka, terutama dalam pengelolaan uang, “kami punya prinsip yang kami pegang dari pesan orang tua kami, bahwa ketika memelihara ayam itu jangan dimakan induknya tapi makanlah telurnya, ungkapnya. “artinya bahwa dalam menjalankan usaha ini kami berusaha sekuat mungkin untuk tidak memakai modal usaha untuk keperluan konsumtif, tetapi kami tetap putar untuk usaha”, terangnya. “karena kami banyak melihat bahwa seringkali usaha gagal karena si pengusaha justru seenaknya sendiri menggunakan modalnya, padahal usaha belum jalan, justru modal habis”, tambahnya. 

Disamping itu, lapak gerobak angkringan serta lesehannya juga menawarkan suasana yang berbeda, pembeli akan terus datang jika mereka puas, itu keyakinan kami, kami kerja keras menjaganya”, tambahnya. Dari yang semula satu lapak, pasangan ini berfikir untuk mengembangkan ketika ada tawaran kerjasama dari koleganya. “kemudian kami merekrut tenaga masak dari kampung kami, sekaligus tenaga-tenaga penjualnya di masing-masing lapak sampai saat ini kami memiliki 20 lapak”,imbuh pasangan dari Klaten, Jawa Tengah ini. Dari hasil usaha ini, Pasangan Ibu Juweni dan Bapak Agus saat ini sudah tidak hidup menumpang lagi di rumah saudara, “Alhamdulillah saat ini kami telah memiliki aset berupa tanah, rumah, mobil untuk operasional usaha”, mengenai pendapatan bersih per bulan dari usaha ini sambil malu-malu pasangan ini menyebutkan angka, rata-rata Rp 30 juta, sebuah angka yang fantastis dari bisnis yang sederhana ini. Namun yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan batin bagi pasangan ini adalah ada 35 orang karyawan yang hidup dari usaha ini. “kami sangat bahagia dan bangga secara batin bisa membantu menaikkan taraf perekonomian karyawan kami.

Sukses Bisnis Fotocopy H.Sobri

Sukses Bisnis Fotocopy H.Sobri
Awal kisah pada tahun 2005 Haji Sobri adalah seorang pedagang ketoprak keliling di komplek kawasan perumahan elit di Jakarta Timur, Perantau asal kota Padang Sumatera Barat ini mulai menginjakkan kakinya di Jakarta sejak tahun 2000 dan selama 5 tahun bekerja sebagai pedagang makanan keliling ( ketoprak ) tidak membuat beliau puas dengan penghasilan yang didapatkannya. Meskipun tidak punya kemampuan dibidang usaha fotocopy tetapi H. Sobri berani mengambil peluang usahaha ini dengan sedikit nekad dan berani membayar lebih untuk seorang karyawan yang profesional di bidang usaha fotocopy Ternyata selain berani bersaing dipelayanan beliau juga berani investasi untuk karyawan profesional karena beliau sadar bukan ahli dibidang fotocopy. 

Ternyata untuk menjadi pengusaha fotocopy sukses tidak harus mengerti mesin fotocopy secara detail, contohnya Haji Sobri yang buta sama sekali tentang fotocopy berhasil mempunyai 5 toko fotocopy berkat kepercayaan terhadap karyawan yang profesional. Beliau mulai melirik dan tertarik di bidang usaha fotocopy setelah melihat sebuah toko fotocopy dan ATK yang ada di dekat tempat tinggalnya ( Jl. Waru Rawa Mangun ) ramai pengunjung bahkan sampai antri untuk sekedar fotocopy saja, dari situ H. Sobri mulai mencari informasi seputar usaha fotocopy dan tempat mendapatkan mesin fotocopy yang cocok untuk usaha. Bukan mesin fotocopy baru yang dipilih H. Sobri tetapi mesin bekas yang harganya terjangkau. Beliau juga berpesan untuk pemula yang mau sukses dalam usaha fotocopy sebaiknya jika benar benar pemula usahakan diawal anda mulai mesin fotocopy. Nah bagi anda yang berminat memulai usaha fotocopy bisa mencontoh H. Sobri yang awalnya tukang ketoprak kini sukses menjadi pengusaha fotocopy dan ATK. Untuk urusan service mesin fotocopy beliau mempercayakan juga kepada teknisi dan urusan mesin fotocopy beliau juga lebih memilih mesin fotocopy digital dan rekondisi bukan mesin baru. Untuk referensi tempat yang menawarkan jasa jual mesin fotocopy bisa mencarinya di internet dan pastikan anda tidak membeli mesin murahan yang tidak dari perusahaan resmi.

Sukses Bisnis Bubur Ayam

Sukses Bisnis Bubur Ayam
Bubur ayam seperti yang kita ketahui memang termasuk makanan yang paling laris di Indonesia. Penjual bubur ayam bisa kita temui dimana saja dengan mudahnya. Peluang usaha bubur ayam ini memang cukup menarik untuk ditekuni, begitupula dengan usaha yang dilakoni oleh Oyo Saryo, seorang pengusaha bubur ayam yang cukup sukses. Dulunya Oyo Saryo adalah seorang buruh tani asal Majalengka namun berkat keuletannya kini berubah menjadi seorang Bos Bubur Ayam “Mang Haji OyoTea” yang saat ini memiliki 8 cabang. Ia memilih berjualan bubur ayam dikarenakan bubur ayam banyak disukai orang dan dinikmati oleh segala kalangan dari anak-anak sampai orangtua. Pertama-tama ia berjualan bubur ayam di lingkungan kantor dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa barat di kota Bandung. 

Bubur ayam Mang Haji Oyo Tea ini memang rasanya gurih dan pembeli pun rela antri demi mendapatkan bubur ayamnya. Mang Oyo, demikian ia biasa disapa, sudah berjualan bubur ayam sejak tahun 1976. Kisah sukses Oyo Saryo merupakan gambaran kegigihan rakyat kecil yang menggeluti usaha untuk mengubah nasib. Usahanya walaupun sering berpindah lokasi namun makin berkembang. Saat ini ia sudah memiliki 7 cabang di kota bandung yaitu di Jalan Gelapnyawang, Jalan Sulanjana, Jalan Ir Soetami, Jalan Surapati, Jalan burangrang, semuanya berada di kota Bandung serta kota baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat. Mang Haji OyoTea dengan Bisnis Bubur AyamIa biasa membuka usaha sekitar pukul 06.00 dan tutup sekitar pukul 13.00 kecuali untuk di jalan Sulanjana dan Jalan Ir Soetami buka sampai pukul 8 malam. Mang Oyo juga sudah mendaftarkan”Bubur Ayam MH Oyo Tea” ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual dan Departemen Kesehatan. Selain itu, ia juga sudah mendapatkan pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia berupa setifikat halal. Harga bubur komplitnya sendiri dijual seharga Rp 10,000. Mang oyo cukup meraih kesuksesan dengan berjualan bubur ayam ini, ia sudah memiliki rumah, menunaikan haji, memiliki kebun dan berbagai kendaraan.

Bisnis Hamster Sukses Charisma

Bisnis Hamster Sukses Charisma
Awalnya Charisma akrab dengan Hamster, hewan mungil seperti tikus ini saat isterinya minta dibelikan hamster lengkap dengan kandangnya. Saat itu harga hamsternya sendiri hanya Rp25.000 dan kandangnya Rp.200.000. Tidak disangka ternyata hamster yang ia pelihara beranak pinak dengan cepat. Sampai Cheris bingung mau dikemanakan anakan-anakan hamster tersebut. Beberapa hamster diberikan kepada saudara dan teman. Inilah awal Bisnis Hamster Sukses Charisma

Selain itu ia juga mulai membuat Rumah hamster sendiri, yang akhirnya menjadi merek usahanya. Menurutnya dalam bisnis hamster ini harus dilandasi dengan perasaan cinta dan senang, tidak semata-mata mencari keuntungan. Baginya Hamster-hamster ini sudah mendatangkan keuntungan, berarti sudah semestinya diberikan perawatan yang baik. Selain sekadar memberi makan dan membersihkan kandangnya, harus diperhatikan kesehatannya. Setelah menjalankan bisnis hamster ini selama tiga tahun, Cheris dengan Rumah Hamsternya kini sudah memiliki outlet, di Jl.Jupiter 7 no.85, Margahayu Raya yang menawarkan sejumlah jenis hamster berikut perlengkapannya. 

Sesuatu jika dilakukan dengan penuh cinta dan hobi tidak hanya akan memberikan kesenangan namun bisa memberikan keuntungan. Salah satunya adalah hobi memelihara hamster yang dilakukan oleh Muhammad Charisma Maghribi. Beternak hamster atau bisnis dalam bidang ini tidak pernah terlintas dalam benak lelaki yang akrab dipanggil Cheris ini. Namun ternyata bisnis dengan hewan kecil ini ternyata menghasilkan omzet yang terus meningkat. Pada 2010 saja, saat dia merintis bisnsnya sudah menghasilkan Rp4 juta – Rp5 juta per bulan. Bahkan, pada 2011 omzet bulanannya sudah mencapai dua kali lipatnya.

Wildan Sukses Bisnis Pisang Goreng Pasir

Wildan Sukses Bisnis Pisang Goreng Pasir
Wildan yang hanya tamatan SMA menjadi Wirausahawan Sukses. Wildan demikian panggilan akrabnya tak pernah bermimpi menjadi sukses seperti saat ini. Dia cukup tahu diri. Bekal pendidikan yang dia dapatkan hanya pas-pasan. Namun, kerja keras yang telah dirintisnya beberapa tahun mampu membalikkan nasib bapak lima anak ini. Wildan berawal dari sebuah gerai berukuran 9×10 M berlokasi di bawah flyover Jalan ExitTol RC Veteran,Bintaro,Jakarta Selatan, yang ia sewa empat tahun yang lalu. Bermodal awal Rp. 75 juta, pria asal Lampung ini mencoba peruntungan membuka bisnis pisang goreng.Keberanian Wildan membuka gerai jajanan pasar pisang goreng boleh diacungkan jempol. Wildan berpikir, nama pasir ini akan menjadi magnet tersendiri. Wildan bercerita, mendapat ide berbisnis pisang goreng berawal dari menjamurnya gerai-gerai pisang goreng yang berada di daerah Bintaro. 

Pada 2005 lalu di jalan sekitar sini banyak gerai pisang goreng,dan yang paling laku yakni pisang goreng pontianak, ujar pria kelahiran Lampung. Setelah mengantre dan ikut mencoba mencicipi pisang goreng pontianak yang memang sedang booming saat itu. Wildan melihat bentuk tepungnya begitu unik namun dari segi rasa menurutnya kurang nikmat. Wildan memutuskan mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda. Minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian.Tujuannya agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi, katanya. Mengenai jenis pisang yang digunakan,Wildan memilih pisang lampung karena potensi pisang di Lampung cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang dari Pontianak. 

Pasalnya, hampir di setiap sudut jalan di Jakarta pasti ditemui jajanan pasar ini.Namun, berkat inovasi produk yang dia beri nama Pisang Goreng Pasir ini diminati banyak orang. Menggelitik memang ketika mendengar kata pisang goreng pasir, dan pasti timbul pertanyaan apakah pisang itu dimasak dengan pasir. Menurut si empunya, nama pasir berasal dari butiran-butiran kecil kecokelatan yang mirip dengan pasir yang ada pada tepung yang menyelimuti pisang goreng. Wildan memutuskan mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda. Minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian.Tujuannya agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi, katanya. Mengenai jenis pisang yang digunakan,Wildan memilih pisang lampung karena potensi pisang di Lampung cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang dari Pontianak. Hasil dari coba-coba dan terus inovasi, ide ayah lima anak ini berbuah manis. Di hari pertama penjualannya, pisang goreng pasir laku hingga 500 potong. 

Didukung embel-embel nama pasir, ternyata membuat orang makin penasaran dengan pisang goreng hasil olahannya. Tantangan Wildan dalam membesarkan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Stok bahan baku yang ia dapatkan terkadang kosong. Rata-rata setiap menggoreng tanpa kompor pintar berkisar 15-20 menit namun sekarang 10 menit saja sudah bisa dicapai, demikian Wildan bertutur. Dengan kesuksesan yang sudah diraihnya saat ini tidak membuat Wildan berpuas diri. Wildan selalu mencari celah untuk bisa memasarkan produknya ke segala lapisan konsumen. Ini terlihat dari rencananya ke depan yang akan menjual pisang goreng pasir ke tempat-tempat yang tidak mungkin dijangkau olehnya. 

Seperti terminal ataupun kampus-kampus dengan cara menggunakan sepeda motor yang sedang dia modifikasi saat ini. Rencananya untuk memasarkan produk melalui delevery order atau sepeda motor adalah salah satu solusi un-tuk para konsumen yang selalu meminta dirinya menjadi partner bisnis. Wildan juga sempat mendapat tawaran di dalam negeri maupun di beberapa negara tetangga untuk menjadi rekanan. Lagi-lagi Wildan belum siap menerima tawaran itu. Dikhawatirkan akan merusak bahan baku pisang karena terlalu lama dalam pengirimannya.

Tuesday, November 5, 2013

Kisah Sukses Pendiri Amazon

Kisah Sukses Pendiri Amazon
Jeffry Preston Bezos atau biasa dikenal Jeff Bezos, adalah pria kelahiran Albuquerque, New Mexico 12 Januari 1964 ini dari kecil memang terkenal sebagai anak yang tekun dan kreatif. ini terlihat ketika ia masih berumur 3 tahun, pada saat itu orang tua Jef membelikanya tempat tidur BOX tapi Jef menginginkan tempat tidur yang biasa, karena orang tuanya tidak memenuhi kemauan Jef, akhirnya ia membokar tempat tidur itu dengan Obeng( gila..baru tiga tahun udah bisa pegang obeng). bukan hanya itu, di sekolah pun Jef sering membuat gurunya stres, karena susahnya menghentikanya dari tugas yang ia kerjakan. sampai-sampai untuk memberikan tugas berikutnya ia harus dipindahkan tempat duduk. 

Kalu bicara tentang Amazon pasti semua sudah tau. apalagi yang namanya pebisnis online yang jiwa raganya bergantung dengan toko online ini untuk sekedar mencari sesuap nasi,hixhixhix.. tapi, taukah anda siapa pendirinya? dan bagaimana liku- liku perjalananya hingga ia dideretkan diantara 10 besar pengusaha terkaya di Dunia hanya karna website Amazon yang dibuatnya? baiklah.. Postingan kali ini saya akan membahasnya! mudah-mudahan menginspirasi sobat semua. 

Di umurnya 10 tahun Jef liburan musim panas bersama kakeknya yang bernama Preston Gise di Texas, kakenya adalah seorang ilmuwan yang bekerja di Komisi Energi Atom sebagai penanggung jawab di Laboratorium Sandia, Livermore, dan Los Almos. Gise melihat Jef sebagai ilmuwan muda sama sepertinya dulu. lalu.. dia membantu Jef untuk membuat Radio Amatir dan mengumpulkan barang- barang koleksi Bezos yang biasa merusak Garasi rumahnya, karena di Garasi inilah Jef membuat Laboratorium sendiri untuk melakukan eksperiman ilmiah yang ia lakukan. 

Pada saat itu Jef mulai berfikir barang apa yang paling cepat dijual di internet, untuk itu Jef mencoba melihat daftar barang-barang yang paling laku dijual lewat surat, list barang yang ia kumpulkan sebanyak 20. akhirnya, jef berkesimpulan Bukulah barang yang paling cepat laku namun belum ada yang menominasi, Jef Sadar tidak ada penyimpanan data yang memuat judul buku pesanan Konsumen melalui surat selama satu tahun, fikirnya kalau penyimpanan data ini dilakukan secara komputerisasi maka akan lebih teroganisir dan menjadi sebuah toko online. tapi, bosnya tidak setuju dengan ide jef. Karena itu, jef memutuskan untuk mencobanya sendiri dengan mengajak dan membicarakanya bersama temanya Mackenzie, Jef mulai berfikir nama apa yang cocok dengan Bisnis barunya ini. mereka mulai mencari nama depan dengan huruf “A”. akhirnya Jef menemukan nama yang cocok yaitu Amazon.com. 

menurutnya Amazon sebagai sungai terbesar yang melambangkan “Koleksi Terbesar”. di tahun 1994, Jef bersama rekan-rekanya yakni Mackenzie, Paul dan shel mulai bekerja di Garasi yang sangat sempit untuk digunakan sebagai Kantor pertama mereka. Sewaktu di SMA dia memenangkan perlombaan yang disponsori oleh NASA dengan menulis naskah tentang pengaruh tidak adanya grafitasi pada usia lalat. di tahun 1981, dia bekerja di Macdonalds Miami, pada saat inilah Jef Belajar Bagaimana pentingnya melayani pelanggan. Jef melanjutkan studynya di Universitas Princeton, dengan mengambil jurusan Fisika, tapi mungkin karena tidak betah ia pindah kejurusan Komputer hingga mendapatkan gelar sarjana komputer. setelah lulus, Jef bekerja di Wall Street, kemudian jef Pun bekerja di D.E Shaw & Co sebagai Wakil Presiden Direktur padawaktu itu umurnya baru 28 tahun. bos Jef menyuruhnya bukan hanya meneliti peluang Bisnis baru tetapi peluang Bisnis internet, dan disinilah Jef mulai mengenal yang namanya Bisnis Internet. 

Awal memulai usaha Jef mengalami 2 masalah yakni pertama Dana. Jef harus mampu membayar orang-orang yang nantinya bekerja di Amazon, untuk itu Jef membentuk Perusahaan, yang di mana ia merangkap Jabatan sebagai Pendiri, CEO, dan Presiden Direktur. Yang kedua adalah perangkat lunaknya, yang tersedia hanya untuk Inventaris dan perangkat untuk pesanan barang yang di pesan melalui surat. tapi keuletan yang mereka milki semua masalah itu akhirnya bisa di atasi. Amazon mengalami peningkatan yang terbilang begitu cepat, karena memudahkan konsumen untuk melakukan pemesanan buku, di tambah lagi harganya lebih murah di bandingkan harga pasaran pada umumnya. Sampai saat ini, Amazon tidak hanya menjual buku, tapi berkembang dengan menjual barang- barang yang lain, yang kemudian Amazon di juluki sebagai “Toko Terlengkap Di Dunia” luar biasa!! Kembali.. bukti dari sebuah kerja keras,ketekunan, kecerdasan, dari seorang Jef Bezos menjadikan Amazon.com mendunia, tentu ini bukan hal yang mudah. Jef mampu melihat peluang Bisnis baru, yang menjadikanya pengusaha ternama di dunia. inilah yang patut kita teladani dan harus kita mengerti bahwa sebuah kesuksesan besar di mulai dari sebuah pengorbanan dan kerja keras yang besar pula.

Siomay Kang Cepot Pak Mudiarjo

Siomay Kang Cepot Pak Mudiarjo

Siomay Kang Cepot berdiri sejak tahun 1987, penemu racikan Siomay Kang Cepot sendiri adalah Bapak Mudiarjo. Dari tahun ke tahun pak Mudi sapaan akrabnya, selalu mencoba mengolah dan memastikan rasa yang khas untuk Siomay Kang Cepotnya. Namun keberhasilan usahanya itu, tidak diraih tanpa kerja keras. Pada tahun 1987, atas ajakan dari temannya, lelaki kelahiran Banjarnegara 51 tahun ini mencoba peruntungan dari berjualan siomay di Kota Yogyakarta. Di Jogjapun beliau berjualan siomay sembari menarik becak dan menjadi buruh tani. Semuanya pak Mudi lakukan demi menghidupi istri dan enam anaknya. Selain di Jogja. beliau pun sempat berjualan siomay di Pekalongan, Semarang dan Solo. Namun pada tahun 1994 akhirnya pak Mudi beserta anak dan istrinya mengontrak sebuah rumah di Jogja untuk tempat tinggal sekaligus sebagai tempat berjualan siomay. Mulai tahun 1994 tersebut, beliau tidak lagi berjualan siomay keliling dengan menggunakan gerobak. Sejak kecil, Pak Mudi yang dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana ini sudah membantu keluarganya mencari makan sendiri. 

Hingga menginjak usia remaja, beliau ikut orang ke Bandung untuk berjualan siomay. Setelah mendapatkan pembelajaran tentang berjualan siomay, pak Mudi kembali ke Purbalingga kampung halamannya pada saat acara pemilihan lurah. Lalu beliau mencoba meminjam modal kepada lurah yang terpilih untuk membuka usaha, alhasil beliau mendapat pinjaman sebesar Rp 250 ribu. Dengan modal pinjaman tersebut, pak Mudi gunakan untuk membeli gerobak lengkap dengan peralatannya. Dari situlah, pak Mudi mulai berjualan siomay dan usahanya pun mulai berkembang, hingga beliau dapat melunasi pinjaman modalnya. Namun usahanya itu tak jarang pula sepi pembeli, maka untuk menambah penghasilan sesekali pak Mudi menarik becak. Dengan latar belakang pendidikan yang hanya kelas 1 SD, pak Mudi mempunyai tekad besar agar dapat menyekolahkan putra-putrinya hingga jenjang yang lebih tinggi. 

Beliau sangat yakin bahwa Tuhan-lah yang mengatur rizki, pak Mudi tidak pernah takut bersaing dengan beberapa orang yang membuka usaha sama dengannya. Bahkan ada salah satu mantan karyawannya yang bisa sukses dengan membuka usaha yang sama yaitu berjualan siomay. Namun diakuinya, omset tempat usahanya tetap stabil. Siomay rebus dan goreng ia jual Rp 1000/ biji, sedangkan untuk siomay super / tengiri, ia jual dengan harga Rp 2.500/biji. Selain itu juga ada tahu, kubis/kol, pare, telur rebus yang dijual Rp 1000/bijinya. Pembeli pun dipersilahkan untuk memilih sendiri menu siomaynya. Kini, Siomay Kang Cepot pun mulai dikenal masyarakat Jogjakarta. Pak Mudi pun kini sudah bisa mengkaryakan 15 orang dengan upah Rp 600ribu sampai Rp.900 ribu. Diantara karyawannya bahkan ada yang sudah 11 tahun membantunya membangun usaha tersebut. 

Siomay Kang Cepot buka setiap hari pukul 9 pagi hingga 10 malam, ia mengaku rata-rata omsetnya mencapai Rp 4 juta/hari. Dari usahanya itu pula, beliau bisa menyekolahkan dua putranya di fakultas Kedokteran di Solo dan Purwokerto. Kini kita dapat menjumpai Siomay Kang Cepot di Jl. Kaliurang KM 8,5 Dayu Sinduharjo Ngaglik Sleman. Jika dulu pak Mudi menamai usahanya dengan Siomay Super, setelah memiliki tempat sendiri, beliau memberi nama usahanya “Siomay Kang Cepot”, nama kang Cepot sendiri diambil dari nama salah satu ikon wayang golek dari Bandung Jawa Barat yang sudah sangat khas itu.Untuk meracik adonan dan bumbu siomay, Pak Mudi sendirilah yang mengerjakannya, namun apabila beliau sedang sakit, maka karyawannya yang membantu membuatnya. Siomay yang dijual Kang Cepot ada 2 jenis, biasa dan spesial. Dikatakan spesial karena full tengiri yang rasanya sangat yummi.

Monday, November 4, 2013

Kisah Sukses Merry Riana

Kisah Sukses Merry Riana

Merry Riana sebenarnya tidak lain adalah kisah sukses seorang sales asuransi atau kalau di Singapura disebut Konsultan Keuangan karena yang mereka jual bukan hanya asuransi tetapi produk-produk keuangan lainnya seperti deposito, kartu kredit dan sebagainya. Yah, dia menekuni usaha ini hingga menghantarnya menggapai 1 juta dolar pada umur yang relatif begitu muda, 26 tahun. Pekerjaan sebagai sales asuransi kadang-kadang tidak dianggap sebagai pekerjaan elit, terutama di Indonesia. Bahkan, tidak jarang mereka dicibir karena suka mengusik dan mengganggu ketenangan orang. Tidak banyak orang bisa mencapai itu. Dan, Merry Riana adalah satu di dalam sedikit orang sukses itu. Resolusi untuk bebas secara finansial sebelum umur 30 tahun, motivasi yang tinggi, semangat yang menggebu, kerja keras hingga larut malam tanpa kenal lelah, ketajaman pikiran dan hati, serta hubungan yang intim dengan Yang Di Atas menjadi kata-kata kunci kesuksesannya. 

Tetapi Merry Riana telah menunjukkan dan mebuktikan bahwa pekerjaan itu mulia dan bisa menjadi kaya raya. Pekerjaan itu jauh lebih menggiurkan daripada kerja kantoran yang hanya mengandalkan gaji bulanan yang tidak seberapa dan amat sangat jarang naik. Gaji sales asuransi sangat tergantung komisi. Keberhasilan sales asuransi tidak diraih dengan mudah. Buku ini diawali dengan kisah keberangkatan Merry Riana dari Jakarta ke Singapura pada 1998. Setelah tamat SMA Ursula, dia tadinya hendak kuliah di Universitas Trisakti. Proses pendaftaran sudah dilakukan. Tiba-tiba pecah kerusuhan. Sebagai etnis Tionghoa yang menjadi sasaran amuk massa ketika itu, orang tua Ria, sapaan akrabnya, mengubah haluan demi masa depan putrinya.Meski ekonomi terbatas, orang tuanya memutuskan untuk melanjutkan kuliah sulung dari tiga bersaudara itu ke luar negeri dan pilihannya Singapura. Ria kuliah di Nanyang Technological University (NTU). 

Untuk biaya kuliah di situ, Ria dan beberapa WNI yang kuliah di sana mendapat pinjaman dari Development Bank of Singapura yang kalau dirupiahkan sebesar 300 juta. Pengalaman susah ini kemudian melahirkan resolusi dalam dirinya. Tepatnya, ketika dia merayakan ulang tahun ke-20, dia membangun resaolusi bahwa dia mau merdeka secara finansial sebelum umur 30 tahun. Menjelang akhir kuliah di NTU, Merry Riana, sempat terjun ke bisnis Multi Level Marketing (MLM). 200 dolar hilang. Dia juga mencoba main saham. Tapi gagal. Menjelang akhir kuliah, dia bersama pacarnya yang kini menjadi suaminya Alva Tjenderasa, melirik bisnis mencetak skripsi mahasiswa NTU dan pembuatan kaus. Tetapi bisnis ini tidak jadi karena sudah dikuasai pemain besar. 

Tahun pertama, Ria konsentrasi pada kuliah. Biaya hidupnya hanya dengan 10 dolar per minggu. Untuk itu dia harus makan mi instan yang dibawa dari Jakarta setiap pagi dan malam sedangkan siang dia hanya makan setangkup ruti tawar.Pada tahun kedua kuliah, pada masa liburan, Ria tidak berlibur ke Jakarta tetapi mencoba mencari uang tambahan dengan menjual brosur dengan gaji 3-5 dolar Singapura per jam. Kemudian dia bekerja di toko bunga. Uang hasil jerih payahnya itu tidak dipakai untuk berfoyah-foyah tetapi ditabung. Uang tabungannya makin banyak ketika dia kerja magang di perusahan terkenal di negeri singa itu dengan gaji 750 dolar per bulan. Merry Riana pernah mau menjadi distributor tunggal Tiansi di Singapura. Merry Riana sudah mengkondisikan teman-teman kampusnya untuk menjadi down line-nya untuk bisnis MLM yang marak di Indonesia itu. Tetapi akhirnya, Tiansi gagal masuk Singapura.

Merry Riana dan Alva adalah penyuka buku-buku motivasi sekelas Robert Kiyosaki dan Anthony Robbins. Bahkan, keduanya mengeluarkan dana lebih dari 2.000 dolar untuk mengikuti seminar Robbins di Singapura. Bahkan, Merry Riana berhasil berfoto dengan idolanya itu. Usaha ini tidak mudah. Tetapi tekadnya yang kuat hingga mimpi berfoto bersama Anthony Robbins terwujud. Menjelang akhir kuliah, dia bersama pacarnya yang kini menjadi suaminya Alva Tjenderasa, melirik bisnis mencetak skripsi mahasiswa NTU dan pembuatan kaus. Tetapi bisnis ini tidak jadi karena sudah dikuasai pemain besar. Setamat kuliah, Merry Riana dan Alva memilih untuk berwirausaha. Mereka tidak mengikuti arus seperti teman-temannya yang bekerja di perusahan dengan gaji 2.500-3.000 dolar per bulan. 

Keduanya memilih menjadi sales asuransi. Menjelang akhir kuliah di NTU, Merry Riana, sempat terjun ke bisnis Multi Level Marketing (MLM). 200 dolar hilang. Dia juga mencoba main saham. Tapi gagal.Mereka menghubungi nasabah dari kantor, tetapi sering kali gagal. Lalu mereka pergi ke mal-mal untuk memprospek calon nasabah. Eh malah diusir satpam. Keduanya lalu ke stasiun MRT. Satu dua orang berhasil mendengar penjelasan mereka. Tetapi tidak sampai deal. Mereka lalu mengatur strategi dan siasat untuk menawarkan produk keuangan. Target pun dipasang. Harus wawancara 20 orang per hari. Target itu harus dipenuhi, meski badan lelah. Tak jarang, Ria menangis karena terlalu capek. 

Saking ngototnya, kadang-kadang target itu baru terpenuhi dini hari. Dari 20 orang yang diprospek itu, rata-rata lima orang bisa diprospek lebih lanjut. Dan dari lima orang itu, satu orang bisa deal. Sedikit demi sedikit usaha ini mulai menuai hasil. Tahun pertama, Merry Riana berhasil mencapai target, transaksi 100.000 dolar. Tahun kedua, target yang sama tercapai juga. Setelah itu Merry Riana dengan sendirinya menjadi manajer dan berhak merekrut anak buah. Puncaknya ketika Merry Riana berhasil meraih 1 juta dolar pada umur 26 tahun, lebih cepat empat tahun dari resolusinya ketika merayakan ulang tahun ke-20. Kesuksesan itu menghantarnya terpilih sebagai Presiden Star Club. Inilah yang membawa dia diliput secara luas media massa di Asia Tenggara. Dia kemudian menjadi pembicara seminar di mana-mana dan menjadi motivator ulung.

Berangkat dari Pemulung Sampah Plastik

Berangkat dari Pemulung Sampah Plastik
John Pieter adalah seorang mahasiswa jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan semangat pantang menyerah membuat John Pieter merasa tidak perlu malu dan risih untuk memungut serta mengumpulkan sampah plastik yang banyak berserakan di belakang kosnya di kawasan Kota Bandung, Jawa Barat. Kucuran keringat dan rasa malu menjadi pemulung tak dia hiraukan karena keyakinan untuk meraih sukses. Sampah-sampah plastik itulah yang menginspirasinya untuk membuka usaha pada 1987. Pada awal memulai usaha John berpikiran, jika dibandingkan harga gabah yang saat itu Rp600 per kg, harga limbah plastik di tingkat pengepul sudah mencapai Rp1.000 per kg.

Dibarengi kerja keras dan tak kenal lelah,usahanya makin maju. Hingga suatu hari ada surat kabar nasional memberitakan sosok John sebagai pengusaha sukses yang berangkat dari pemulung sampah plastik. Hal ini berlanjut dengan adanya tawaran kucuran modal dari Mandiri Business Banking. Sejak saat itu John resmi menjadi nasabah Mandiri Business Banking. Saat itu dia memantapkan diri untuk memulai bisnis daur ulang sampah plastik sambil tetap kuliah.

Menurut John, seorang pengusaha sejati harus memiliki sifat visioner, memandang jauh ke depan, ditambah keyakinan diri pada usaha yang dilakukannya. “Melihat perbandingan harganya yang begitu besar, saat itu saya yakin bisnis ini akan menghasilkan potensi besar. Dan perlu diingat, untuk menjalankannya bisnis ini tidak memerlukan modal sama sekali. Hanya dengan catatan, buang jauh-jauh perasaan malu,” tandas John saat ditemui di ruang kerjanya di Cipamokolan, Kota Bandung, belum lama ini. Keyakinan John menggeluti bisnis pengolahan sampah plastik semakin kuat karena keinginannya untuk menjadi orang kaya. “Saya berpikiran, jika jadi pekerja, meskipun lulusan dari kampus ternama, tidak berarti memberikan jaminan bisa menjadi orang kaya.

Di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya menjadi orang kaya melalui jalan yang benar,” ungkapnya. John merasakan betul bagaimana aktivitasnya mengumpulkan satu per satu sampah plastik di halaman kosnya untuk dijual kepada pengepul. John mengungkapkan, kedua orang tuanya yang tinggal di Sumatera tidak mengetahui jika anaknya menjadi pemulung selepas kuliah. Kini, setelah lebih dari 20 tahun menjalankan usaha limbah plastik, John menyerahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk mengelola. John juga telah membuka cabang usaha biji plastik di Makassar, Medan, dan Banjarmasin. Selain itu, dia juga mendirikan pabrik pengolahan biji plastik di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. “Hasil produksi di beberapa daerah tersebut semua dikirim ke Bantar Gebang,” katanya. Banyaknya cabang itu sampai membuat John tak tahu persis berapa jumlah seluruh karyawannya. Tidak ketinggalan, John melibatkan sang istri yang juga teman satu almamaternya ikut berperan dalam memajukan usaha limbah plastik. Bahkan, sejak tiga tahun lalu Ninik mengelola sebuah koperasi mikro yang bisa memberikan pinjaman modal usaha bagi para pemulung dan warga biasa dengan bunga sangat rendah. Selain itu, John dan istrinya memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pemulung dan warga sekitarnya.

Friday, November 1, 2013

Ibu Pinik dengan Bisnis Telur Asin

Ibu Pinik dengan Bisnis Telur Asin
Kisah Sukses Ibu Pinik emilik merek telur asin EL ini memulai usaha telur asin rumahan karena terinspirasi dengan banyaknya peminat telur asin, namun masih sedikitnya pebisnis yang melirik bisnis ini, sementara bahan baku di daerahnya yaitu berupa telur bebek segar sangat berlimpah ruah. Walaupun sempat merasa ragu, akhirnya dengan berpikiran positif, ia mencoba merealisasikan bisnis telur asin ini. Dimulai dari ide tersebut, akhirnya ia mencoba untuk membuat telur asin. Percobaan pertamanya gagal karena telur-telur itu menjadi terlalu asin dan kurang enak untuk di konsumsi. Setelah mengalami beberapa kali kegagalan, akhirnya ia berhasil juga menciptakan resep telur asinnya sendiri dan ia pun mulai memasarkan telur asin itu kepada teman-temannya dan keluarganya. Aspirasi teman dan keluarga yang menyukai telur asin buatannya tersebut membuatnya semakin bersemangat untuk terus mengembangkan bisnis telur asin ini. Dari berbagai artikel, dari saran teman-teman dan keluarganya, maka ia harus mencoba menitipkan telur asin buatannya tersebut ke toko-toko kue dan ke depot-depot makan.

Mungkin bagi orang yang terbiasa berjualan, hal ini sangatlah mudah. Tinggal membawa telur asin tersebut ke suatu toko atau depot makan, meminta pemilik toko atau depot tersebut menerima titipan telur-telur asin itu dan selesailah sudah. Namun masalah baru muncul. Ia tidak pandai berjualan. Ia hanya bisa memproduksi telur-telur tersebut lalu menunggu teman atau keluarganya membeli telur-telur itu. Ia belum pernah mempunya pengalaman untuk berjualan. Padahal, jika ingin usaha telur asinnya ini berkembang ia harus memasarkan produknya secara luas. Tapi apa yang dialami ibu Pinik ini jelaslah tidak semudah yang dibayangkannya. Pemilik toko yang pertama kali dikunjunginya menolak untuk dititipi telur asin itu dengan alasan produknya masih belum dikenal. Padahal ibu Pinik ini dengan rela memberikan bonus telur untuk dicicipi oleh pemilik toko.

Begitu pula dengan depot makanan pertama yang dikunjunginya pun menolak karena menganggap telur asinnya itu belum tentu diminati oleh pengunjung depot tersebut. Hari pertama akhirnya dilalui dengan tangan hampa, tidak ada satupun toko dan depot yang dikunjunginya itu mau menerima titipan telur asin-telur asin itu. Dalam keputusasaan, ia tetap berpikiran positif, bahwa suatu saat telur asin buatannya ini akan dikenal oleh masyarakat bahkan akan menjadi favorit. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi jika untuk menitipkan sepuluh butir telur asin ke suatu toko saja ia belum mampu? Itu berlangsung selama beberapa hari, bahkan hampir dua minggu pertama ia tidak mendapatkan tempat untuk menitipkan produk telur asinnya tersebut. Putus asa? Jelas. Ibu Pinik nyaris putus asa akan usaha ini.

Sempat di dalam pikirannya terlintas bahwa bisnis ini tidak akan dapat dipertahankan bahkan ia nyaris menghentikan pembuatan telur asin mengingat telur asin adalah produk makanan yang tidak akan dapat disimpan terlalu lama. Telur asin yang tanpa bahan pengawet hanya bisa bertahan sekitar dua hingga tiga minggu. Jika lebih dari itu, maka rasa dari telur asin itu akan sangat tidak enak dikonsumsi dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Dan jelas, telur seperti ini tidak akan bisa dijual dan harus dibuang. Sejak itu, ibu Pinik berusaha untuk berpikiran positif, maka akan ada banyak jalan keluar yang bisa dicobanya. Pikiran positif membuatnya kebanjiran ide untuk mencoba berbagai peluang, pikiran positif membuatnya berani mencoba pangsa pasar yang mungkin tidak terduga, pikiran positif pula yang membangun kepercayaan diri untuk terus bangkit dan berusaha tanpa pantang menyerah. Dari pengalaman ibu Pinik, pengusaha telur asin ini maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pikiran positif akan mampu membuat kita menghadapi berbagai masalah. 

Bisnis Sambal Pecel Madiun

Bisnis Sambal Pecel Madiun
Rasanya sulit membayangkan seorang yang buta huruf bisa menjadi pengusaha sukses. Tapi Kasiyem Roesmadji, pengusaha Sambal Pecel asal Madiun, Jawa Timur, bisa membuktikan: keterbatasan pendidikan bukan halangan untuk mengecap keberhasilan. Kasiyem sendiri adalah anak ketujuh dari 12 bersaudara. Hingga menikah dengan petani bernama Roesmadji, naluri dagang Kasiyem tak pernah luntur. 

Di rumahnya di Jalan Delima 32, Madiun, dia berjualan es dawet setelah aneka gorengan buatannya tak laku alias gagal. Kebetulan, rumah Kasiyem berdekatan dengan kantor cabang PT Telkom dan Perum Pegadaian. Tapi, harapan es dawet buatannya disukai pegawai perusahaan pelat merah tersebut ternyata kandas. Toh, itu tidak menyurutkan semangatnya berwirausaha. 

Kasiyem lalu mencoba berjualan nasi pecel untuk melayani kebutuhan pegawai kantor di sekitar rumahnya tersebut. Eh, ternyata peruntungan Kasiyem mulai berubah. Dagangan nasi pecelnya disukai banyak pembeli. Buktinya, warung yang ia buka mulai pukul enam pagi tersebut sudah tutup pada pukul delapan pagi. Laris. Menurut Kasiyem, sambal pecel buatannya bisa terkenal sampai ke Solo dan Jogja berkat informasi dari mulut orang yang pernah mencoba rasanya. 

Kasiyem pun mulai berpikir untuk memberi label pada sambal pecel buatannya agar tidak ada yang meniru. Alhasil, pada tahun 1990, pengusaha yang lebih dikenal dengan nama Bu Roesmadji ini memberi label “Cap Jeruk Purut” pada sambal pecel buatannya. Nama jeruk purut dipilih lantaran ia menyisipkan daun jeruk purut itu untuk memperkuat rasa sambal pecelnya. Selanjutnya, karena sudah terkenal dan memiliki banyak pelanggan, Kasiyem bisa mendapatkan pinjaman dana dari PT Inka sebesar Rp 10 juta untuk mengembangkan usaha. Ia menggunakan uang itu untuk memproduksi sambal pecel lebih banyak lagi. 

Seiring peningkatan produksi sambal pecel Cap Jeruk Purut, PT Inka menggelontorkan pinjaman Rp 10 juta lagi ke Bu Roesmadji. “Total saya dapat Rp 20 juta,” kata dia. Setelah memberi label, Bu Roesmadji berpikir untuk mendapatkan hak paten buat sambal pecel Cap Jeruk Purut. Tapi, karena mengurus hak paten waktu itu sulit, Bu Roesmadji pun mengurungkan niatnya. Eh, tidak disangka, berkat bantuan beberapa orang yang ia kenal, Kasiyem bisa mendapatkan hak paten pada tahun 2000. “Lalu, pada 2002 sambal Cap Jeruk Purut mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat,” ujar pengusaha yang kini mempekerjakan 25 orang pegawai ini. Hebatnya lagi, sambal pecel produksi Bu Roesmadji ini sudah singgah ke Belanda. 

Pernah dalam sepekan ia bisa mengirim sebanyak 1 ton sambal pecel ke Negeri Kincir Angin itu. Kendati begitu, ujian juga menghampiri Kasiyem. Saat permintaan dari Belanda meledak pada 1995, Pemerintah Kota Madiun mengalihkan order ke pengusaha lain. Alasannya, harga sambal pecel Bu Roesmadji terlalu mahal. Pecel MadiunTapi, karena sambal pecel itu berbeda dengan buatannya, pengusaha di sana menolak. “Sambal pecel itu sudah bau meski baru 15 hari,” ujar dia. Alhasil, Kasiyem pun kembali menjalin kontak agar ada lagi pesanan ekspor. Kasiyem Roesmadji sudah membuktikan bahwa sambal pecel khas Madiun bisa mendunia. Setelah berhasil mengekspor sambal pecel Cap Jeruk Purut ke Negeri Kincir Angin, Belanda, Bu Roesmadji kini membidik pasar Malaysia dan Singapura.